templatePOSTabbaworship

The Art of War

Kengerian merasuki sebuah bangsa, karena sebuah kabar teror akan terjadi pada tempat tinggal mereka, bahkan seorang raja yang pada waktu itu memerintah pun merasakan kegelisahan karena kabar tersebut. Bagaimana tidak 3 bangsa diujung pandang mereka membuat sebuah aliansi untuk sekaligus maju memerangi mereka. Hmm.., 3 bangsa mungkin berarti 3 kali jumlah mereka, 3 jendral perang terbaik dari masing-masing bangsa pun ada diantara mereka, dan bukan hanya 1 ahli strategi perang namun mungkin juga 3 ahli strategi terbaik pun bersama mereka. Wow.., Sebuah fakta yang cukup mengkhawatirkan untuk dihadapi.

Momok itu lah itu menjadi ‘beban yang berat’ bagi sang raja, sampai-sampai beban itupun ‘memaksa’ dia untuk kembali ‘berlutut’. Namun ternyata itu menjadi awal dari kemenangan mereka, bahkan ‘ide gila’ berikutnya muncul, bangsa itu menyanyikan pujian dan nyanyian syukur dengan semaraknya dihari perang mereka. Disaat itulah ‘peperangan mereka sebenarnya terjadi’

2 Tawarikh 20:22 “Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah”.

Ya, mereka menang ‘sebelum berperang’. ini menjadi kunci mereka mengalahkan aliansi musuh bangsa mereka. Saya terhenyak dengan kisah ini, terkadang Tuhan ‘memberikan beban yang berat’ supaya anda tidak lagi berdiri melainkan mengganti posisi anda dengan ‘berlutut’. Ya.., sebuah ‘beban’ yang menegur anda supaya anda tetap rendah hati seperti sebuah peringatan “Keep Humble or you’ll Stumble”. Karena lewat ‘lutut’( ‘doa’ ) anda, anda sedang berkata “saya terbatas dan Tuhan saya tidak terbatas”, dan lewat puji-pujian dan penyembahan anda ‘mendeklarasikan iman anda’, ketika itulah deklarasi iman anda menjadi genap.

Ketakutan, kegetiran dan kegelisahan yang selama ini ada menjadi lenyap digantikan dengan damai sejahtera untuk anda, supaya anda bisa meresponi dengan benar di situasi yang ada dihadapan anda, karena kemenangan terbesar adalah ketika anda bisa menundukkan setiap respon anda seusai dengan Kebenaran.

Ingatlah kunci bangsa ini memenangi peperangan mereka, ada kuasa didalam doa dan penyembahan anda.

Tuhan memberkati

Harry Setyadi
Harry adalah salah satu Strategic Leaders dari Abbalove Barat sekaligus pemimpin jemaat dari Abbalove To Generation (A2G Barat). Sehari-hari berprofesi sebagai General Manager dari Metanoia Publishing dan dikenal sebagai pemimpin dengan karunia penggembalaan yang kuat.

2015115185016_6be8249b

“Penyakit berbahaya” orang Kristen

Di zaman yang serba cepat dan instant ini, kita dihadapkan dengan sebuah kondisi dimana semua hal dibuat untuk mempermudah manusia dalam mendapatkan segala sesuatu. Sehingga ketika manusia dihadapkan dengan sebuah kesulitan, tantangan dan hambatan, manusia cenderung mundur, berhenti dan “menerima nasib”nya.

Hal ini juga terjadi dengan kehidupan orang Kristen zaman now. Disaat semua fasilitas gereja sudah begitu canggih, lengkap dan banyak hal yang dipermudah prosesnya, bahkan tidak jarang dijanjikan hidup yang “pasti diberkati”, orang Kristen cenderung menjadi manusia yang “manja” dan kurang memiliki semangat juang ketika dihadapkan dengan sebuah proses yang tidak enak, konflik ataupun tantangan. Dan ketika segala sesuatu tampak begitu sulit, orang Kristen mengambil sikap “menyerah” atau “menerima nasib”. Sikap inilah saya sebut dengan “penyakit berbahaya”.

Didalam surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus, Paulus mengulang 2 kata ini didalam satu pasal yang sama :

2Kr_4:1  Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.

2Kr_4:16  Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

Ketika anda membaca 2 ayat diatas ini, tentulah anda mengerti kata mana yang saya maksud.

TAWAR HATI – penyakit berbahaya yang gejalanya tidak terlihat jelas namun efeknya sangat mematikan bagi kehidupan orang Kristen. Dan tidak jarang orang Kristen yang mengidap penyakit ini berujung kepada “kelumpuhan” (baik secara rohani maupun fisik).

Tawar hati selalu dimulai dari respon kita terhadap hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita sudah melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh namun hasilnya tidak maksimal karena satu dan lain hal. Ketika kita sudah memberi yang terbaik namun tidak mendapatkan penghargaan baik dari atasan, rekan kerja, teman, sahabat atau bahkan keluarga. Ketika niat kita baik namun disalahmengerti oleh orang lain. Ketika kita sudah merencanakan segala sesuatu namun things doesn’t work out as we expected. Bagaimana respon kita?

Perjalanan umat Israel bisa menjadi sebuah gambaran bagi perjalanan kekristenan kita. Mereka yang menjadi tawar hati ketika melihat laut merah dihadapan mereka dan tentara Mesir yang mengejar dibelakang mereka, padahal mereka dijanjikan sebuah tanah yang berlimpah susu dan madunya. Mereka yang menjadi tawar hati ketika tidak ada makanan dan ingin kembali kepada perbudakan mesir karena disana mereka bisa makan sampai kenyang sekalipun diperbudak. Dan banyak hal lainnya, bahkan sampai sudah hampir memasuki tanah kanaaan pun mereka masih mengalami masa tawar hati karena melihat tanah yang mereka akan masuki diduduki oleh orang-orang yang lebih besar dan tidak mudah ditaklukkan menurut pandangan manusia. Dari 10 orang pengintai, hanya 2 orang yang tetap percaya. 8 orang lainnya “menularkan” ketawaran hati mereka kepada yang lain.

Bukankah perjalanan ini mirip dengan kita? Ketika mendapatkan sebuah visi dari Tuhan tapi dalam prosesnya harus melalui banyak tantangan. Mirip dengan kita yang diizinkan Tuhan melewati masa sulit ketika memutuskan mengikut DIA sehingga berpikir untuk kembali kepada kehidupan yang lama karena segala sesuatu tampak lebih mudah.

Yos_1:9  “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

Ayat ini mengingatkan kepada kita semua supaya kita jangan tawar hati karena Tuhan menyertai kita kemanapun kita pergi, seberat apapun prosesnya, sebesar apapun masalahnya. Ingat dan renungkan ayat-ayat ini setiap kali kita dihadapkan dengan sebuah kondisi yang tidak enak :

Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.

Ams 24:10

 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Rom 8:28

Mari jaga respon kita mulai dari hal yang terkecil dan tetap percaya, supaya kita terhindar dari penyakit berbahaya ini!

 

 

Darwin Liang
Darwin adalah salah satu penatua / lead pastor dari Abbalove Ministries Barat. Dikenal sebagai pemimpin yang ahli dalam mengelola manusia, membangun pelayanan kreatif, dan kuat dalam pengajaran-pengajaran praktis.

templatePOSTabbaworship

Hati yang merindukan Tuhan

Manusia melihat apa yang didepan mata tetapi Tuhan melihat hati kita, bagaimana kondisi hati kita hari-hari ini?

 

Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. 

Kita dapat belajar dari raja Daud didalam kitab Mazmur 130:6 “Aku merindukan TUHAN, lebih dari seorang peronda merindukan fajar.” Bagaimana kondisi kerohanian kita hari-hari ini? apakah hati kita masih merindukan Tuhan? Tuhan adalah Bapa kita, kita adalah anak anakNya, Bapa merindukan kita intim dengan Dia, Bapa menanti nantikan kita datang mendekat kepada Dia.

Ungkapan hati Raja Daud bahwa dia merindukan Tuhan melebihi seorang peronda merindukan fajar! Daud begitu rindu untuk intim dengan Bapa. Keintiman dengan Bapa adalah bahan bakar rohani untuk kita dapat menjalani panggilanNya, tanpa keintiman dengan Bapa kita seperti mobil mewah tanpa bensin. Mobil mewah tanpa bensin tidak dapat bergerak kemana – mana, demikian juga hidup kita tanpa keintiman dengan Bapa maka kita tidak akan dapat menjalani panggilanNya dalam hidup kita. Lewat kehidupan raja Daud ini, biarlah kita terus diingatkan untuk memiliki hati yang haus dan rindu berjumpa dengan Tuhan yang adalah Bapa kita.

 

Hendi Gunawan
Hendi adalah salah satu dari strategic leaders Abbalove Barat dan salah satu pengajar utama Excellent Servant Camp (ESC) Abbalove. Dikenal karena gaya pengajarannya yang eksplosif. Hingga saat ini sudah menerbitkan 4 buku termasuk buku terbarunya, “The Blessings”