templatePOSTabbaworship

UNTUK APA PELAYANAN P&W?

Pelayanan musik dalam gereja, atau yang lebih familiar disebut dengan pelayanan “Praise & Worship” (P&W), adalah sebuah pelayanan yang unik. Terlepas dari apa denominasi gerejanya, tidak bisa disangkali bahwa musik, lagu, dan nyanyian adalah bagian penting dalam kekristenan.

Hari ini, pelayanan musik dalam gereja telah berkembang beriringan dengan perkembangan musik itu sendiri. Perdebatan muncul disana-sini lantaran banyak yang menganggap musik “modern” tidak seharusnya dibawa ke dalam gereja. Namun, di satu sisi, banyak pula yang berargumentasi bahwa musik bagaikan bahasa, dengan adanya perbedaan generasi, maka tentu ada perbedaan dalam “berbahasa”. Terlepas dari pro kontra ini, sebenarnya tujuan saya menulis artikel ini justru bukan membahas topik itu. Saya malah ingin lebih menekankan kepada bagaimana budaya dan “gaya” bermusik “modern” yang banyak kali telah mereduksi atau bahkan membelokkan tujuan kenapa pelayanan musik ada di dalam gereja. Selama 20 tahun, sejak tahun 1994 saya sudah terlibat dalam pelayanan musik. Selama tahun-tahun ini saya banyak mengamati, mengalami, dan berproses di dalam pelayanan ini. Dan perjalanan itu telah memunculkan sebuah keyakinan kuat, bahwa Tuhan memang menggunakan musik sebagai salah satu alat yang berkuasa dalam Dia berbicara maupun menjamah umatNya. (hal ini sering saya sampaikan di seminar-seminar untuk pemusik gereja baik melalui alasan-alasan “supranatural” maupun alasan-alasan ilmiah).

Karena itu, saya meyakini sebuah hal yang menurut saya sangat absolut, yaitu: dalam sebuah pelayanan musik, atau sebuah sesi “ibadah musik”, seharusnya orang semakin sadar dengan kehadiran dan kualitas-kualitas Tuhan, sehingga kemudian mereka menanggapi/meresponi kehadiran dan kualitas-kualitas Tuhan tersebut.

Contoh, ketika kita menyanyikan atau memainkan sebuah lagu, kita berharap melalu lagu dan nyanyian tersebut, jemaat menjadi sadar bahwa Tuhan hadir dan lebih dari itu, jemaat menjadi “tersadarkan” dengan kebaikanNya, kesetiaanNya, kuasaNya, kasihNya, kemurahanNya, dan semua kualitas-kualitasNya. Pada saat jemaat sadar, maka dengan sendirinya, mereka akan tergerak untuk menanggapi dan meresponi kehadiran Tuhan, entah itu melalui pujian mereka, doa mereka, ucapan syukur mereka, gerakan mereka, komitmen perubahan mereka, dan apapun yang mereka lakukan sebagai bentuk ekspresi menanggapi kehadiran Tuhan. Maka dari sinilah saya yakin bahwa 2 hal ini adalah esensi pelayanan musik di dalam gereja, yaitu membuat orang sadar akan kehadiran Tuhan dan mendorong mereka untuk meresponi kehadiran Tuhan itu. (berkali-kali dulu saya mengalami bahwa sebuah sesi “penyembahan musikal” bisa membuat orang yang sama sekali tidak percaya Tuhan, tiba-tiba merasakan bahwa Tuhan hadir dan dia meresponinya dengan pertobatannya – saya yakin Anda juga pernah melihat atau bahkan mengalaminya sendiri!)

Sehingga apapun bentuk musik, aransemen, cara bernyanyi, dan liturgisnya, bagi saya tidak lagi menjadi masalah SEPANJANG itu membuat jemaat mengalami kehadiran Tuhan dan membuat mereka menanggapi kehadiran Tuhan tersebut. Masalah akan muncul ketika para pelayan musik justru tanpa sadar (atau dengan sangat sadar) menggeser kehadiran Tuhan dengan kehadiran mereka. Alih-alih membuat jemaat merasakan kehadiran Tuhan dan menanggapi Tuhan, justru jemaat malah lebih merasakan kehadiran sang “musisi” dan menanggapi mereka. Hal yang paling sederhana adalah, ketika jemaat bertepuk tangan, untuk siapakah mereka melakukannya? Apakah mereka melakukannya karena menanggapi bahwa Tuhan sudah melakukan hal luar biasa untuk hidup mereka? Atau menanggapi betapa bagusnya suara sang penyanyi? Atau menanggapi “liturgi formal” yang diwajibkan manusia?

 

Tuhan adalah pemilik gereja dan umatNya, maka Dialah yang harus menjadi pusat dari semua aktifitas penyembahan kita, termasuk dalam sesi “penyembahan musikal” kita.

Itu sebabnya, siapapun kita, yang bergerak di dalam pelayanan musik, sudah menjadi kewajiban untuk kita terus-menerus “aware” dan mengingatkan diri kita sendiri, bahwa kehadiran Tuhanlah yang harus menjadi fokus utama dari semua yang kita lakukan. Kesadaran inilah yang saya sebut dengan “State of Worship”. Dalam semua yang kita kerjakan, kita harus berada dalam “state of worship”. Dengan demikianlah pelayanan musik akan benar-benar kembali menjadi kepunyaan Tuhan dan menjadi alat Tuhan yang berkuasa untuk memanifestasikan kehadiranNya dan kualitas-kualitasNya.

Josua Iwan Wahyudi
JIW melayani dalam Praise & Worship Ministry sejak tahun 1994. Kini ia adalah salah satu dari strategic leader dan sekaligus merupakan salah satu pemimpin pelayanan profetik di Abbalove Ministries Area Barat. Salah satu dari 34 buku yang sudah ia terbitkan, adalah: “Way Back Into Worship”.

templatePOSTabbaworship

3 Kebiasaan WL Yang Merusak “Penyembahan”

Tidak banyak yang benar-benar memahami apa sesungguhnya peran seorang Worship Leader (WL). Banyak orang mengira, WL seperti seorang “MC” yang memimpin jemaat untuk menyanyikan lagu. Sebagian lagi mengira WL adalah seperti vokalis utama seorang band yang harus menyanyikan lagu dengan bagus dan memberikan impresi kepada jemaat. Sebagian lagi berpikir, WL adalah orang yang bertanggung jawab untuk membawa jemaat untuk mengalami hadirat Tuhan. Continue reading

Josua Iwan Wahyudi
JIW melayani dalam Praise & Worship Ministry sejak tahun 1994. Kini ia adalah salah satu dari strategic leader dan sekaligus merupakan salah satu pemimpin pelayanan profetik di Abbalove Ministries Area Barat. Salah satu dari 34 buku yang sudah ia terbitkan, adalah: “Way Back Into Worship”.

templatePOSTabbaworship

Menyanyi VS Memuji

 

Pujian dan penyembahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kekristenan modern. Terutama gereja-gereja modern beraliran karismatik. Musik, nyanyian, dan lagu menjadi salah satu elemen penting yang terekspresikan dalam sebuah sesi pujian dan penyembahan.

Sayangnya, banyak orang Kristen yang melakukan “pujian dan penyembahan” tanpa memahami apa maknanya.

Continue reading

Josua Iwan Wahyudi
JIW melayani dalam Praise & Worship Ministry sejak tahun 1994. Kini ia adalah salah satu dari strategic leader dan sekaligus merupakan salah satu pemimpin pelayanan profetik di Abbalove Ministries Area Barat. Salah satu dari 34 buku yang sudah ia terbitkan, adalah: “Way Back Into Worship”.