2015115185016_6be8249b

“Penyakit berbahaya” orang Kristen

Di zaman yang serba cepat dan instant ini, kita dihadapkan dengan sebuah kondisi dimana semua hal dibuat untuk mempermudah manusia dalam mendapatkan segala sesuatu. Sehingga ketika manusia dihadapkan dengan sebuah kesulitan, tantangan dan hambatan, manusia cenderung mundur, berhenti dan “menerima nasib”nya.

Hal ini juga terjadi dengan kehidupan orang Kristen zaman now. Disaat semua fasilitas gereja sudah begitu canggih, lengkap dan banyak hal yang dipermudah prosesnya, bahkan tidak jarang dijanjikan hidup yang “pasti diberkati”, orang Kristen cenderung menjadi manusia yang “manja” dan kurang memiliki semangat juang ketika dihadapkan dengan sebuah proses yang tidak enak, konflik ataupun tantangan. Dan ketika segala sesuatu tampak begitu sulit, orang Kristen mengambil sikap “menyerah” atau “menerima nasib”. Sikap inilah saya sebut dengan “penyakit berbahaya”.

Didalam surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus, Paulus mengulang 2 kata ini didalam satu pasal yang sama :

2Kr_4:1  Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.

2Kr_4:16  Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

Ketika anda membaca 2 ayat diatas ini, tentulah anda mengerti kata mana yang saya maksud.

TAWAR HATI – penyakit berbahaya yang gejalanya tidak terlihat jelas namun efeknya sangat mematikan bagi kehidupan orang Kristen. Dan tidak jarang orang Kristen yang mengidap penyakit ini berujung kepada “kelumpuhan” (baik secara rohani maupun fisik).

Tawar hati selalu dimulai dari respon kita terhadap hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita sudah melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh namun hasilnya tidak maksimal karena satu dan lain hal. Ketika kita sudah memberi yang terbaik namun tidak mendapatkan penghargaan baik dari atasan, rekan kerja, teman, sahabat atau bahkan keluarga. Ketika niat kita baik namun disalahmengerti oleh orang lain. Ketika kita sudah merencanakan segala sesuatu namun things doesn’t work out as we expected. Bagaimana respon kita?

Perjalanan umat Israel bisa menjadi sebuah gambaran bagi perjalanan kekristenan kita. Mereka yang menjadi tawar hati ketika melihat laut merah dihadapan mereka dan tentara Mesir yang mengejar dibelakang mereka, padahal mereka dijanjikan sebuah tanah yang berlimpah susu dan madunya. Mereka yang menjadi tawar hati ketika tidak ada makanan dan ingin kembali kepada perbudakan mesir karena disana mereka bisa makan sampai kenyang sekalipun diperbudak. Dan banyak hal lainnya, bahkan sampai sudah hampir memasuki tanah kanaaan pun mereka masih mengalami masa tawar hati karena melihat tanah yang mereka akan masuki diduduki oleh orang-orang yang lebih besar dan tidak mudah ditaklukkan menurut pandangan manusia. Dari 10 orang pengintai, hanya 2 orang yang tetap percaya. 8 orang lainnya “menularkan” ketawaran hati mereka kepada yang lain.

Bukankah perjalanan ini mirip dengan kita? Ketika mendapatkan sebuah visi dari Tuhan tapi dalam prosesnya harus melalui banyak tantangan. Mirip dengan kita yang diizinkan Tuhan melewati masa sulit ketika memutuskan mengikut DIA sehingga berpikir untuk kembali kepada kehidupan yang lama karena segala sesuatu tampak lebih mudah.

Yos_1:9  “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

Ayat ini mengingatkan kepada kita semua supaya kita jangan tawar hati karena Tuhan menyertai kita kemanapun kita pergi, seberat apapun prosesnya, sebesar apapun masalahnya. Ingat dan renungkan ayat-ayat ini setiap kali kita dihadapkan dengan sebuah kondisi yang tidak enak :

Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.

Ams 24:10

 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Rom 8:28

Mari jaga respon kita mulai dari hal yang terkecil dan tetap percaya, supaya kita terhindar dari penyakit berbahaya ini!

 

 

Darwin Liang
Darwin adalah salah satu penatua / lead pastor dari Abbalove Ministries Barat. Dikenal sebagai pemimpin yang ahli dalam mengelola manusia, membangun pelayanan kreatif, dan kuat dalam pengajaran-pengajaran praktis.

templatePOSTabbaworship

“Mencari untung” dalam penyembahan

Tanpa kita sadari, sejak kecil kehidupan kita sudah “terdoktrin” dengan istilah untung rugi. Kita “dilatih” untuk berhitung dan menghindari segala sesuatu yang bisa merugikan, mencari dan mengejar segala sesuatu yang bisa memberi keuntungan. Terkadang pola ini terbawa dalam hubungan kita dengan Tuhan. Hal ini sudah terjadi sejak zaman dahulu misalnya kita mengambil contoh penyembahan dewa-dewa yang dilakukan oleh orang Yunani. Mereka mempercayai bahwa ketika mereka melakukan penyembahan kepada dewa-dewa maka hidup mereka akan dilindungi dari bahaya dan diberkati dengan segala kelimpahan.

Paulus mengingatkan Timotius untuk mengajarkan kepada jemaat yang dia pimpin tentang hal ini.

1Ti 6:3  Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat–yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus–dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita,

1Ti 6:4  ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,

1Ti 6:5  percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.

1Ti 6:6  Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

1Ti 6:7  Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

Saya menemukan beberapa ciri-ciri orang yang “mencari untung” dalam penyembahan baik secara sadar maupun tidak sadar (termasuk pengalaman pribadi saya juga pernah “mencari untung”) :

  • Penyembahan terjadi hanya di dalam “acara rohani” atau di waktu “sedang butuh Tuhan”
  • Penyembahan dilakukan karena ingin menunjukkan “level kerohanian” kepada orang-orang tertentu
  • Tidak berani berekspresi didalam penyembahan karena “malu dilihat orang” (bukan berarti orang-orang yang terlihat tidak berekspresi pasti selalu tidak benar, mari silahkan cek di kedalaman hati masing-masing saja)
  • Penyembahan terjadi karena status “saya pemimpinnya” atau “saya pelayannya”, jadi “mau ga mau” harus jadi contoh

Sebagai pengikut Kristus, penyembahan yang kita lakukan sangatlah berbeda. Kita tidak perlu lagi mencari keuntungan. Kita menyembah karena DIA sudah terlebih dahulu mengasihi dan menyerahkan nyawaNya bagi kita. Kita menyembah karena DIA sudah terlebih dahulu menaruh RohNya di dalam hidup kita sehingga hidup kita dipenuhi kuasa dan kita tidak perlu takut serta sibuk mencari perlindungan karena Roh yang ada di dalam kita jauh lebih besar dari roh manapun yang ada di dunia ini.

Kita menyembah karena DIA sudah memberikan yang terbaik bagi kita.

Kita menyembah karena DIA sudah memulai sebuah hubungan dengan kita.

Kita menyembah karena kita MENGENAL siapa DIA!

Darwin Liang
Darwin adalah salah satu penatua / lead pastor dari Abbalove Ministries Barat. Dikenal sebagai pemimpin yang ahli dalam mengelola manusia, membangun pelayanan kreatif, dan kuat dalam pengajaran-pengajaran praktis.

templatePOSTabbaworship

“Tempat” Terjadinya Penyembahan

Sadarkah kita bahwa sebagai orang percaya, kita mempunyai “special place” untuk menyembah Tuhan kita. Tempat ini tidak bisa dibinasakan oleh tangan manusia dan tempat ini begitu istimewa sehingga Tuhan ingin hanya ada kita dan DIA disana.

Continue reading

Darwin Liang
Darwin adalah salah satu penatua / lead pastor dari Abbalove Ministries Barat. Dikenal sebagai pemimpin yang ahli dalam mengelola manusia, membangun pelayanan kreatif, dan kuat dalam pengajaran-pengajaran praktis.