templatePOSTabbaworship

A REAL RELATIONSHIP

Apakah kita pernah memiliki hubungan yang nyata dengan Tuhan? Apakah kita masih memiliki hubungan yang nyata dengan Tuhan? Dan apakah kita yakin akan terus memiliki hubungan yang nyata dengan-Nya?

Sebuah hal yang perlu kita pahami, ketika Tuhan memutuskan untuk memberikan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ atas doa dan permohonan kita, maka hal tersebut sepenuhnya adalah hak-Nya. Ini berarti bahwa setiap kali kita mengharuskan (memaksa) Tuhan untuk melakukan sesuatu sesuai keinginan kita dan menjadi marah kepada-Nya ketika Ia tidak melakukannya, maka kita sedang menantang hak Tuhan tersebut dan kedaulatan-Nya. Kita sedang memaksa Tuhan menjadi seperti ‘tuhan’ yang kita inginkan dan tidak membiarkan Ia menjadi Diri-Nya sendiri.

Inilah akar masalah dari rusaknya sebuah hubungan. Kita menganggap seseorang, bahkan Tuhan, adalah buruk atau jahat ketika mereka tidak mau atau tidak bisa mengikuti keinginan kita. Kita merasa BERHAK atas jawaban doa yang sesuai keinginan kita, BERHAK atas kemurahan dan berkat Tuhan, bahwa Ia harus melakukan seperti apa yang kita kehendaki.

Bukankah menjadi sesuatu yang aneh ketika seseorang meminta pertolongan kepada sahabatnya tetapi dengan paksaan? Hal inilah yang melahirkan ketidakpuasan dalam sebuah hubungan. Tuhan memiliki kedaulatan-Nya secara mutlak dan bebas dari semua tuntutan manusia. Sama seperti Ia memutuskan untuk mati dan menebus hidup kita, semata-mata karena Ia memang mau untuk melakukannya, bukan karena tuntutan, rasa bersalah ataupun paksaan dari siapapun.

Justru kebebasan-Nya yang mutlak inilah yang membuat-Nya bebas mengasihi kita tanpa syarat, tanpa hidden agenda. Dengan mengijinkan Tuhan menjadi Diri-Nya sendiri dan menghormati kedaulatan-Nya inilah, justru kita sedang memasuki sebuah hubungan yang nyata dan lebih dalam dengan-Nya.

Ayub menerima keputusan Tuhan untuk membiarkannya dan tidak menolongnya di waktu yang ia harapkan. Di tengah-tengah semua keluhan dan kemarahannya, Ayub tidak mengakhiri hubungan-Nya dengan Tuhan. Ia mungkin memang tidak memahami maksud Tuhan atas apa yang sedang terjadi dalam hidupnya, namun Ia memilih untuk berserah dan membiarkan Tuhan menjadi Diri-Nya sendiri.

Dan pada akhirnya kita memang melihat bahwa Tuhan turun tangan tepat pada waktu-Nya. Paulus berkali-kali meminta Tuhan untuk melepaskannya dari ‘duri dalam daging’ namun permohonannya ini tidak dikabulkan. Paulus tidak menolak Tuhan karena keputusan-Nya ini dan memilih untuk berserah dan percaya kepada-Nya (2 Korintus 12:7-10).

Bahkan Yesus sendiri memberi keteladanan bagi kita melalui kerelaan dan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa dan memutuskan untuk menderita dan mati bagi kita. Dan melalui kesemuanya inilah, Ia menjadi sumber keselamatan bagi setiap orang yang mau percaya kepada-Nya (Ibrani 5:7-10). Yesus menghormati dan tetap taat kepada Bapa.

Pertanyaannya bukanlah tentang apakah kita bisa memiliki sebuah hubungan yang nyata dengan Tuhan tetapi apakah kita mau menghormati pribadi Tuhan, mengijinkan Ia menjadi Diri-Nya sendiri, kemudian mempercayai Tuhan sepenuhnya, karena hanya hubungan yang dibangun oleh dua pribadi yang menjadi dirinya sendiri dan saling menghormati-lah yang akan membawa hubungan tersebut kepada tingkat yang lebih dalam. Demikianlah juga hubungan yang kita bangun bersama Tuhan dengan pemahaman yang sama  akan terus bertumbuh dan memasuki dimensi yang lebih dalam.

Bambang Sutedja
Bambang Sutedja adalah salah satu Strategic Leaders dari Abbalove Barat sekaligus pemimpin jemaat Abbalove Bellezza. Selain itu, ia juga aktif menjadi pembicara di berbagai gereja. Bambang telah menulis buku bestseller berjudul “Grand Design”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *