templatePOSTabbaworship

3 Kebiasaan WL Yang Merusak “Penyembahan”

Tidak banyak yang benar-benar memahami apa sesungguhnya peran seorang Worship Leader (WL). Banyak orang mengira, WL seperti seorang “MC” yang memimpin jemaat untuk menyanyikan lagu. Sebagian lagi mengira WL adalah seperti vokalis utama seorang band yang harus menyanyikan lagu dengan bagus dan memberikan impresi kepada jemaat. Sebagian lagi berpikir, WL adalah orang yang bertanggung jawab untuk membawa jemaat untuk mengalami hadirat Tuhan.

Walaupun WL mungkin memang melakukan semua fungsi itu, tetapi sebenarnya tugas seorang WL bukanlah itu semua. Tugas utama seorang Worship Leader adalah menjadi yang “sulung” (yang terlebih dahulu) dalam menyembah Tuhan dan menjadi inspirasi bagi jemaat dalam sebuah sesi penyembahan.

Terlebih penting untuk menjadi seorang penyembah ketimbang menjadi seorang vokalis. Lebih utama menjadi seorang penyembah ketimbang menjadi seorang performer. Dan, lebih krusial untuk menjadi seorang penyembah, ketimbang seorang “MC”!

Karena ketidakmengertian inilah, maka sering muncul kebiasaan WL yang kemudian entah sejak kapan “diwariskan” dan “ditularkan” secara turun-temurun, sehingga seolah menjadi salah satu standar atau acuan yang dipakai banyak WL di seantero bumi.

Inilah beberapa kebiasaan “merusak” tersebut:

 

  1. MEMBERI “KEMULIAAN”

“Berikan kemuliaan bagi Tuhan…” adalah kalimat yang sudah terlalu umum dan sering kita dengar dilontarkan seorang WL. Dan kita semua sudah menangkap apa maksudnya. Kalau kita mendengar “kemuliaan” kita menangkapnya sebagai “tepuk tangan”.

Benarkah kemuliaan bisa diberikan hanya dengan sekedar bertepuk tangan (apalagi bertepuk tangan setengah hati?).

Kalau Anda benar-benar ingin mengetahui apakah kemuliaan itu, hadirlah di stadion pertandingan sepak bola final piala Champion atau final piala dunia. Lalu, lihatlah apa yang terjadi ketika seorang pemain mencetak gol krusial di menit terakhir yang mengantarkan timnya untuk menang. Disitulah kemuliaan terjadi diberikan kepada si pencetak gol. Bukan sekedar tepuk tangan, bukan sekedar teriakan sorak sorai, dan bukan sekedar lompatan hingar bingar, tetapi seluruh keberadaan dari hati, jiwa, pikiran, hingga fisik, semuanya “dilepaskan” sebagai bentuk ekspresi terbaik, terbesar, dan termaksimal yang bisa diberikan. Dan itu terjadi secara korporat bersama-sama. Itulah gambaran kemuliaan.

Makanya, Yohanes menggambarkan suasana penyembahan di Surga bunyinya seperti desau air bah. Begitu bergemuruh, menggetarkan hati, dan tak tergambarkan karena memang begitulah kemuliaan.

Maka, ketika kita menyamakan kemuliaan dengan tepuk tangan seadanya, kita justru sedang mengecilkan Tuhan itu sendiri. Hanya sebegitukah kemuliaan yang bisa kita berikan kepadaNya?

Memakai kalimat seperti ini justru mengedukasi jemaat, bahwa seolah Tuhan tidak layak menerima yang terbaik.

 

  1. MENYURUH-NYURUH JEMAAT

Saya pernah menghadiri sebuah kebaktian, dimana WL memberikan begitu banyak instruksi kepada jemaat. “Mari kita bangkit berdiri”, “Mari kita mengangkat tangan”, “Mari bertepuk tangan”, “Katakan ‘amin!’”, “Ayo menari buat Tuhan”, “Ayo berikan sorak sorai…”, dan masih banyak lagi instruksi lainnya. Dan semuanya diberikan berulang-ulang.

Kalau Anda memahami bahwa penyembahan adalah sebuah hubungan yang personal dengan Tuhan, pernahkah Anda melihat ada orang yang memiliki hubungan dekat, harus disuruh-suruh dalam berekspresi?

Bayangkan, kalau saya dan istri saya, ketika kami sedang makan malam bersama, lalu ada seseorang di sebelah kami yang memberi instruksi, “Ayo katakan kamu mencintai dia…”, “Ayo peluk dia…”, “Ayo senyum…”, “Ayo coba sapa dia…”, “Ayo berdiri dari kursimu dan hampiri dia…”, dan seterusnya.

Apakah Anda bisa percaya bahwa saya adalah suaminya dia?

Anda akan mengira saya sedang bermain peran bukan?

Anehnya, kita para WL, bersikap demikian di setiap ibadah. Sebuah ekspresi yang disuruh dan tidak lahir dari hati BUKANLAH HUBUNGAN, melainkan ritual dan program. Penyembahan bukanlah ritual dan program, penyembahan adalah sakral karena terjadi hubungan personal yang dalam antara kita dan Tuhan.

Orang yang memiliki kedalaman hubungan dengan seseorang, tidak perlu disuruh untuk berekspresi. Dengan sendirinya, dia akan mengekspresikan dirinya. Semakin dekat hubungannya, semakin dalam dan personal ekspresinya. Begitu pula dengan penyembahan kita kepada Tuhan.

Kalau kita memiliki kedalaman hubungan dengan Tuhan, tanpa disuruh kita bisa berekspresi kepada Dia.

Dengan WL menyuruh-nyuruh setiap saat, justru kita sedang membentuk sebuah budaya agamawi di tengah ibadah kita. Jemaat tidak lagi memahami esensi personal relationship dalam sebuah penyembahan. Akibatnya, jemaat hanya memandang sesi penyembahan sebagai bagian ritual semata dan ketika tidak ada yang menyuruh, mereka akan diam saja.

 

  1. TERLALU BANYAK BICARA

Saya pernah berada dalam sebuah sesi penyembahan dimana WL begitu “cerewet” dan mengisi semua “celah kosong” dengan berbicara. Dan seperti biasa, semua kata-katanya adalah kata-kata “klise” yang berupa retorika agama semacam, “Tuhan itu baik… KasihNya kekal sampai selamanya…”, “Engkau begitu luar biasa Tuhan, betapa ajaib perbuatanMu…” dan berbagai kalimat senada lainnya.

Tentu saja bukan kalimatnya yang salah, tetapi, jika kalimat itu tidak lahir dari perhemaan dan pengalaman bersama dengan Tuhan, maka itu hanya akan menjadi “jargon” semata.

Dan masalahnya, dalam sebuah sesi penyembahan, setiap individu sedang terkoneksi dengan Tuhan secara personal. Seringkali, ketika saya sedang menikmati keintiman dengan Tuhan dalam sebuah sesi penyembahan. WL sibuk “nyerocos” mengucapkan semua kalimat retorika itu yang membuat saya menjadi terganggu.

Worship Leader bukanlah seorang performer. WL tidak perlu memunculkan kesan rohaniah. Dia hanya perlu menjadi yang sulung dan menunjukkan bagaimana seharusnya semua itu dilakukan melalui keteladanan yang dia lakukan di atas (dan TERUTAMA di bawah) panggung.

Pastikan setiap kalimat yang keluar dari mulut Anda bukanlah “lips service” semata, atau sekedar “supaya tidak sepi”, tetapi memang lahir karena kedalaman hubungan Anda dengan Tuhan. Anda bukan MC, Anda adalah penyembah Tuhan.

Josua Iwan Wahyudi
JIW melayani dalam Praise & Worship Ministry sejak tahun 1994. Kini ia adalah salah satu dari strategic leader dan sekaligus merupakan salah satu pemimpin pelayanan profetik di Abbalove Ministries Area Barat. Salah satu dari 34 buku yang sudah ia terbitkan, adalah: “Way Back Into Worship”.

32 thoughts on “3 Kebiasaan WL Yang Merusak “Penyembahan”

  1. Tapi ini tidak menjawab bagaiman seharusnya menjadi WL…
    Maaf sebelumnya, sy bukan WL profesional, tapi menurut saya yg terbaik adalah bagaiman seorang WL yg mempunyai hubungan intim dengan Tuhan sehingga mengimpatrasikan kepada Jemaat bukan hanya itu, baik singer dan pelayan Tuhan yang lain sehingga tercipta koneksi yg baik dan memberi dampak baik dalam pujian penyembahan kepada jemaat, itu aja…
    Kata2
    Suruhan suruhan…
    Pasti ada reason buat WL melakukan tersebut
    Karena tidak setiap ibadah itu selalu dalam situasi yg sama..dan saya percaya ketika WL memerintah atau menyuruh2 itu karena ada sukacita yg dirasakan dan bukan sebuah adegan drama yg udh dikonsep.

    Tapi thank u buat penjelasannya.
    Gbu

    • Dear natalya,

      Memang artikel ini bukan menulis tentang bagaimana menjadi seorang WL. Anda coba bisa baca beberapa artikel lain di portal ini, untuk bisa mendapat informasi tambahan.

      Mengenai kata suruhan, saya setuju kalau itu memang lahir dari sebuah ekspresi penyembahan yang sesungguhnya, itu tentu tidak masalah. Tapi kalau kita bersedia memeriksa hati kita, bukankah ada banyak praktek dimana orang “bersandiwara” atau mencoba untuk memberi kesan/impresi yang kita coba tampilkan tanpa keluar dari hati.

      Artikel ini BUKAN untuk menilai orang lain, tapi untuk MEMERIKSA hati kita. Kalau kita mendapati kita memang sudah do the best from our heart, ya bagus sekali :)

      • Intinya adalah berjalan sesuai dengan tuntunan roh.. Menurut saja wajar saja melakukan ketiga hal diatas gk da masalh.. Kalau saat kita penyembahan wajar kalau WL ya berbicara mengisi kekosongan musik dengan berkata kata mwninggikan Tuhan. Gk da yang salah. Tuhan jg tdk mengukur dengan seperti ketiga hal diatas. Tuhan aja gk bilang salah. Jd gk baik seperti tu. Yang terpenting adalah kita sebagai jemaat bisa bener bener mersakan hadirat Tuhan bisa intimm saat menyembah dengan Tuhan. Kalau utk whorship wajar berdiri loncat loncat tepuk tangan sorak sorai tu kan tanda luapan hati kita bergembira bersukacita krna Tuhan.. Bukan berrti kita melakukan tu salah. Maaf y saya tdk setuju dengan artikel ni.. Raja Daud jg bersorak sorai dan melompat kok memuji Tuhan..nabi Yohanes aja berlonjak lonjak ketika dia tau ibu Yesus datang menghampirinya pd saat dalam kandungan. Jd gk boleh gtu..Tuhan aja gk pernah bila g tu salah.Gbu

        • Dear indah,

          Kalau sudah bicara tuntunan roh, ya semua yang dilakukan ya jadi sah2 saja.

          Justru tulisan ini bertujuan untuk kita MEMERIKSA diri, apakah yang kita lakukan dan ucapkan adalah lahir dari hubungan dengan Tuhan & “tuntunan Roh” dan bukan cuma sekedar basa-basi? Karena kata-kata “meninggikan Tuhan” yang diucapkan dengan basa-basi dan hanya untuk sekedar “mengisi celah” apakah itu bisa disebut meninggikan Tuhan? Kita aja kalau ada orang bilang “aku mengasihimu” tapi diucapkan sebagai basa-basi, kita juga merasa gak ok kan?

          Kedua, kalau Anda baca di artikel, di bagian manakah saya menyalah-nyalahkan orang yang bertepuk tangan, menari, dan melompat?

          Ketiga, seperti yang Anda bilang, yang penting jemaat merasakan kehadiran Tuhan dan intim dengan Tuhan. Itu betul, itu sebabnya WL jangan sampai mengajarkan hal-hal yang “ritual” tanpa ada kedalaman relationship dengan Tuhan.

      • Yes,, orang yg diatas mimbar/altar bukanlah kamu lagi, melainkan Kristuslah yg ada didalam diri kamu.

  2. Tulisan ini sangat memberkati saya, membuka pemahaman yg benar mengenai WL yg sbenarnya. Ternyata selama ini sy bnyk melakukan kesalahan. Kalau ada buku atau tulisan ttg WL yg sebenarnya tlg di info ya pak. Tq, Jesus bless u..

  3. JIW Thanks atas penjelesannya dan sangat memberkati. Setiap WL wajib membaca penjelasan tentang
    3 Kebiasaan WL Yang Merusak ” Penyembahan ” dan setelah membacanya intropeksi diri agar kedepan dapat memberi yang terbaik bagi Tuhan.
    Mengapa saya berkata demikian? Karena saya pernah menjadi WL banyak hal yang keliru saya lakukan
    setelah membaca 3 Kebiasaan WL yang merusak ” Penyembahan “.
    Sekali lagi Thanks JIW teruslah menulis tentang penyembahan yang benar. Gbu

  4. ya…yang pasti apa pun yang kita perbuat.., perbuat lah dengan segenap hati…, bukan untuk manusia melain kan untuk Tuhan…
    maaf kalo terlalu lancang…
    Makasih…Gbu.

    -edited by admin, alasan: ada komentar yang tidak berkaitan/berhububgan

  5. Untuk beberapa point saya setuju. Tapi jangan berpikir sempit seperti itu ketika WL ‘menyuruh’ jemaat utk berdiri, duduk, salam kiri kanan, dll yg relevan dan masih diangap sopan. Ibadah perlu dilakukan dengan tertib dan teratur. Gimana kalo yg satu lg nangis, yg satu teriak, yg satu lompat, yg satu sujud, yg satu bahasa roh, yang satu main musik dalam waktu bersamaan karena sesang menyembah, gmn mau teratur.

    Tujuan tulisannya bagus tp tampaknya terlalu banyak judgment yg tidak perlu.

    I am a WL too, btw. Thank you

    • Dear kokondao,

      Apakah artinya semua harus diseragamkan? Kalau ada satu nyanyi, satu berlutut, satu lompat, satu diam saja, apakah keadaan itu tidak diperbolehkan? Bukankah ekspresi personal tiap orang bisa berbeda-beda tergantung kedalaman personal orang itu dengan Tuhan?

      Kalau masalah tidak tertib, saya sangat yakin penyembahan yang dilakukan dalam kendali Roh Kudus PASTI TERTIB walau tidak seragam. Justru kalau sampai ada ketidaktertiban, kita mesti mengevaluasi

      Saya terbuka dengan pemikiran yang lebih “lebar” kok :)

  6. Tq brother tuk pencerahannya,,,saya setuju jika kita tahu siapa yang kita sembah dan puji,,, tentunya ekspresi yang timbul terhadap diri kita akan membawa ketenangan hati, jiwa, tentunya Roh kita connect. dampaknya sangat luar biasa. GBU bro

  7. Betul banget… kadang2 WL sudah jadi terlalu “ngawur” dalam memimpin.
    Kharisma itu datangnya dari Tuhan, dari hubungan kita dengan Tuhan. Maka ketika jadi WL secara otomatis spirit si WL akan terpancar dari setiap omongannya. Ga usah maksa2 jemaat utk itu dan ini, KRN apa yg WL lakukan (dari hasil “intimasi dg Tuhan”) pasti jemaat sdh kerasa kok.

    -edited by admin, alasan: mengarah kepada beberapa figur tertentu yang bisa memunculkan asumsi tertentu pada figur tsb

  8. Saya pernah dengar kotbah seperti yg ditulis disini 4 th lalu yg dibawakan oleh PDT Chris Manusama Dan hampir sama persis dengan tulisan ini. Masih pro kontra menurut saya Pdt Chris bisa berbicara seperti ini sah2 saja karena dia tidak hanya berbicara di atas mimbar tetapi mengajarkan kepada jemaatnya selama 8th di gerejanya. Nah pertanyaanya apakah bila ada seorang wl melakukan Hal demikian tidak menyuruh jemaat berdiri atau duduk Dan bertepuk tangan apakah itu Salah sedangkan gembala sidangnya tidak pernah mengajarkan hal2 tentang pujian penyembahan secara intens atau membangun jemaatnya supaya tidak lagi berdiri duduk, Jadi menurut saya tidak ada yg SALAH bila wl berlaku demikian, mungkin yg perlu dikoreksi adalah ketika wl mengucapkan mari beri Kemuliaan buat Tuhan mungkin ada naiknya seorang wl berbicaranya mari beri tepuk tangan untuk kemuliaan Tuhan itu lebih baik.

    • Dear donald,

      Saya sangat setuju dengan pendapat Anda. Makanya posisi artikel yang saya tulis ini BUKAN untuk menyalahkan orang, tetapi menjadi perenungan untuk kita. Saya berani menulis karena memang ini yang sedang kami praktekkan di ibadah2 kami dan mulai membuahkan perubahan, dimana jemaat mulai bisa melihat sesi PW bukan sekedar bagian “acara ritual”, tetapi sudah lebih paham tentang relationship dalam penyembahan.

      Saya berharap, kita sebagai orang yang memahami esensi, bisa mulai menjadi teladan dan mengedukasi orang-orang di sekitar kita tanpa menunggu pemimpin jemaat dulu.

  9. Spertinya bahasan topik dengan judul “merusak” itu tidak tepat. Saya berpikir tidak ada WL yg ingin merusak sebuah penyembahan. Mungkin cara membawakan memang berbeda beda. Kalau kita buat standart untuk seorang WL mungkin bahasan ini sedikit benar. Tetapi kalau kita lakukan untuk seluruh gereja, saya tidak yakin bahwa hal ini bisa dilakukan. Beberapa saat yang lalu saya beribadah di gereja yg tidak mempunyai standart WL yg di bahas diartikel ini. Dan jauh dari apa yg diharapkan penulis artikel ini,. Pertanyaannya adalah apakah sang WL merusak penyembahan?… saya katakan tidak. Saya berharap penulis artikel ini masuk kedaerah yang tidak punya standart WL yg dia inginkan. Mungkin kalau beliau ke gereja perkotaan tertentu artikel ini mungkin jadi standarnya.

    -edited by admin, alasan: menyebut nama gereja tertentu

    • Dear sam,

      Mungkin kata “merusak” memang terdengar provokatif dan mengusik kita.

      Tapi poin saya soal “merusak” ini bukanlah merusak suasana penyembahan atau merusak hubungan penyembahan antara Tuhan dan kita, tetapi view saya adalah, kebiasaan-kebiasaan ini bisa saja “merusak” pemahaman kita tentang penyembahan dan bisa menggeser cara pandang kita tentang penyembahan.

      Bayangkan kalau kebiasaan-kebiasaan “agamawi ritual” ini kita turunkan generasi ke generasi. Bayangkan kalau suatu hari para WL melakukan semua kebiasaannya tanpa paham lagi kenapa itu ada. Bukankah penyembahan bisa menjadi “rusak”?

      Soal gereja tertentu, sebenarnya berbicara esensi penyembahan haruslah dipahami oleh semua orang gereja apapun, karena saya sedang tidak berbicara hal-hal teknis. Bahkan saya menjumpai ada gereja kecil di daerah yang justru malah mempraktekkan (tanpa mereka pernah belajar soal topik di tulisan ini) apa yang dibahas di artikel ini.

  10. Saya adalah seorang WL
    Dan saya udah jd WL sejak SMP smpe hr in
    Trnyata ada banyak kesalahan slma sy melakukan tugas sbgai wl dgreja stelah baca artikel in..
    Tp ketika sy melakukan tugas sy..tentu sy jg merasakan bagaimana ibadah trsb trasa hikmat atw hambar..pasti terasa ibdhny mati atw hidup..
    Smua kembali kepd tuntutan Roh Kudus klo bagi sy..
    Dan tentunya memulai segala sesuatuny dg penyerahan diri dan pengakuan diri kepd Tuhan spya dilayakkan berdiri diatas mimbar..
    Tp trimaksih banyak utk artikel in..
    Sy yakin ap yg kt perbuat utk kemuliaan nama Tuhan.. Tuhan pasti berkenan.. selama it tulus dr hati bkan berperan ats skenario yg kt mainkan..
    Gbu

    • Saya setuju sekali, memang di atas segalanya adalah, apa yang kita lakukan memang murni lahir dari hati, maka apapun ekspresinya menjadi tidak masalah. Makanya konteks artikel saya adalah membahas kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan karena sudah “turun-temurun” dan jadi reaksi otomatis yang keluar begitu saja tanpa pemahaman dan belum tentu keluar dari hati.

  11. Halo Pak Joshua, Saya sangat menyukai artikel anda. Bisakah anda menjelaskan bagaimana cara membawa suasana penyembahan dalam Jemaat. Dan bagaimana seharusnya kalau ada lagu cepat atau praise, Perlukah kita menyuruh mereka untuk berdiri dan bertepuk tangan. Saya sangat membutuhkan saran anda. Trimakasih Tuhan Yesus memberkati.

    • Dear pak samuel,

      Saya share berdasarkan pengalaman yang saya lakukan. Kami selama 1 tahun terakhir (dan masih terus dilakukan), mulai membuat momen2 edukasi kepada jemaat (lewat berbagai cara) supaya mereka mulai paham mengenai berbagai esensi penyembahan.

      Lalu semua pemimpin dan tim PW mulai menjadi teladan (terutama ketika tidak tugas dan sedang jadi “jemaat”). Misalnya, ketika sesi PW mulai, kami fokus menyembah dan mengekspresikan penyembahan tanpa dikomando. Sebelum WL meminta berdiri, kalau kami ingin berdiri, ya kami berdiri dulu. Ketika teladan dan budaya ini mulai dibangun, jemaat juga pelan-pelan mulai bisa terimpartasi.

      Memang belum 100% ideal, tapi kami mulai melihat ada perubahan mindset dan sikap dalam sesi penyembahan. WLpun mulai mengurangi kalimat-kalimat “suruhan”. Memang ini butuh waktu lama untuk dibangun, tapi setidaknya kita bisa memulainya duluan secara pribadi (yang sulung).

  12. Terima kasih untuk tulisannya. Saya sangat diberkati. Ternyata ketiga-tiga hal diatas adalah apa yang saya alami yang sangat menganggu dalam penyembahan kepada Tuhan…GBU bro…

  13. Buat saya judul diatas cukup menyeramkan … “ 3 kebiasaan WL yang MERUSAK penyembahan..” wow

    *Ada kesalahan2 yg memang diperbuat oleh seorang WL, seperti beberapa yg diulas di atas. Tapi sebagian point nya buat saya bukan kesalahan.
    *Seorang WL, bukan hanya memimpin Penyembahan, tapi juga Puji2an/Praise. Lagu pujian yg ditujukan untuk Tuhan tapi ada juga tujuannya untuk membangun semangat bagi jemaat.
    *WL adalah seorang pemimpin. Dia bisa mengajak jemaat utk berdiri, duduk, tepuk tangan, angkat tangan. Yang menjadi salah apabila instruksi tersebut terus di ulang2 ulang2.
    *saya setuju banget utk WL tidak banyak berbicara, apalagi mengulas Ayat Firman Tuhan krn itu tugas pengkhotbah.
    Tapi utk ucapan2 pujian pengagungan: “Allah kita baik”, Allah kita dasyat” itu adalah ucapan pernyataan dan doa utk mengingatkan jemaat. Tetapi juga tidak terlalu sering diucapkan/ulang2 itu saja.

    *Ibadah Raya itu memang ritual.
    *Motivasi penyembahan hati yg tulus hanya Tuhan yg dapat menilainya.
    *tugas WL adalah memimpin pujian dan penyembahan.

    *Ulasan di atas bagus, tapi buat saya lebih kepada penyembahan PRIBADI

    God bless you Joshua!

  14. Terima kasih untuk komentar dari rekan-rekan semua :)
    Dikarenakan sangat banyak komentar yang masuk dan akan mempengaruhi notifikasi untuk para subscriber yang bisa beruntun masuk dalam inbox mereka. Maka admin memutuskan untuk menghentikan kolom komentar pada artikel ini.

    Jika Anda ingin berkomentar, berdiskusi, menyanggah, ataupun mengkonfirmasi dalam memberikan pendapat untuk artikel ini, Anda bisa memberikannya langsung di timeline FB penulis (Josua Iwan Wahyudi Penuh) yang juga sedang aktif berdiskusi soal artikel ini.

    Terima kasih
    -admin

Comments are closed.