worship10

“Must Have” Skills for Worship Leader

Pemimpin sebuah sesi penyembahan (worship leader / worship director), bukanlah sekedar seorang penyanyi, dan SANGAT BUKAN penampil (performer). Banyak sekali pelayan pujian penyembahan (PAW) yang masih salah persepsi, mereka berpikir bahwa seorang worship leader adalah seorang yang memimpin jemaat untuk berpindah dari satu lagu ke lagu yang lain, atau (yang lebih parah) mereka berpikir bahwa dirinyalah sang performer yang harus membawakan lagu-lagu dengan “keren”.


Seorang pemimpin penyembahan adalah orang yang mampu menginspirasi jemaat dan menjadi teladan dalam penyembahan. Seorang pemimpin penyembahan juga adalah orang yang seharusnya memiliki kepekaan spiritual untuk “mengarahkan” kemana fokus penyembahan yang sedang terjadi. Bukan hal yang mudah memang. Apalagi ada unsur musik yang berperan di dalamnya. Untuk bisa memenuhi “tugas”nya, seorang worship leader setidaknya harus memiliki kemampuan kuat di 3 area ini:

1. Musikalitas
Karena sebuah sesi penyembahan dalam ibadah sangat terkait erat dengan musik, maka jelas seorang worship leader harus memiliki standar kapasitas tertentu dalam musikalitas. Ia harus mampu menyusun daftar lagu yang memang sudah didoakan. Ia harus mampu mentransisikan lagu demi lagu dengan “benar”. Ia harus mengerti bagaimana “memainkan” putaran lagu demi lagu agar pesan dan  yang dibangun terus berkelanjutan. Dan, ia harus mengerti “bahasa” komunikasi musik agar tidak salah dalam berkomunikasi dengan para musisi.

 

2. Kepekaan Spiritual
Berikutnya, seorang worship leader mutlak harus memiliki kepekaan spiritual. Kerap kali, Tuhan memakai sebuah sesi pujian penyembahan untuk menyatakan sebuah pesan khusus bagi jemaat, atau untuk memanifestasikan kuasa, kasih, dan kebenaranNya. Jika seorang worship leader tidak memiliki kepekaan akan hal-hal ini, maka sesi pujian penyembahan yang ia pimpin akan menjadi “kosong” dan hanya sekedar menjadi sebuah sesi menyanyi bersama-sama.

 

3. Komunikasi Publik
Kemampuan ketiga ini adalah kemampuan yang paling jarang dilatih, dan bahkan saya menjumpai banyak sekali gereja yang tidak sadar bahwa seorang worship leader membutuhkan kemampuan ini.

Kalimat-kalimat semacam “masih kuat memuji Tuhan?”, “ayo teriakkan Woooo….”, “Katakan pada kiri-kananmu…” yang diucapkan berulang-ulang kadangkala menjadi sekedar kalimat “pengisi” karena kita bingung berkata apa. Dengan melatih skill komunikasi ditambah kepekaan spiritual, kita menjadi lebih tepat dalam memilih timing kapan harus mengucapkan apa.

Sekali lagi, seorang worship leader haruslah menginspirasi jemaat untuk menjadikan penyembahan sebagai sebuah gaya hidup yang melebihi ritual agamawi. Karena itu, kebiasaan-kebiasaan dan apa yang kerap diucapkan seorang worship leader akan berperan dalam membentuk pemahaman jemaat mengenai apa itu penyembahan.

Ketiga kemampuan ini adalah hal yang mutlak untuk dimiliki seorang worship leader yang berhasil. Karena itu, gereja perlu berfokus untuk melatih setiap pekerja worship leader mereka di tiga area penting ini.

JOSUA IWAN WAHYUDI
@josuaiwanwahyudi

 

 

Administrator
admin abbaworship.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *