worship9

Hymn Worship VS “Loud & Life” Worship

Selama bertahun-tahun, perdebatan mengenai “musik seperti apa” yang seharusnya dimainkan dalam sebuah ibadah raya gereja, masih juga belum selesai.

Sebagian orang menganggap, sebuah ibadah haruslah khidmat, “terhormat”, agung, dan anggun. Sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan, tidak seharusnya kita menjadi terlalu bebas dan terlalu emosional dalam kehingar-bingar’an. Namun sebaliknya, bagi sebagian orang, justru sebuah ibadah harusnya terasa hidup, lepas, ekspresif, dan total. Mereka merasa, suasana yang “kaku”, terlalu “terkekang” dan tidak bebas akan mengikis kualitas koneksi yang terbangun antara Tuhan dan umatNya.

Keduanya memiliki dasar-dasar ayat Alkitab yang sah dan terdengar masuk akal.

Lalu mana yang benar?

 

APAKAH ESENSINYA?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita harus melihat lebih dulu, apa sebenarnya esensi adanya sebuah sesi “nyanyian” dalam sebuah liturgi ibadah raya?

Musik itu sendiri, sebenarnya adalah sebuah ALAT KOMUNIKASI. Segala bentuk musik, baik nyanyian, rangkaian nada, bunyi-bunyian, ritme, dan lagu, semuanya adalah sebuah BAHASA. Musik adalah alat berkomunikasi selayaknya kita berbicara, menulis teks, maupun menyampaikan maksud dengan gerakan tubuh.

Jika kita menilik lebih jauh, ibadah raya sebenarnya adalah salah satu bentuk cara Tuhan berkomunikasi dengan umatNya secara korporat. Di dalam sebuah ibadah, ada banyak cara dan bahasa untuk berkomunikasi dan terkoneksi dengan Tuhan, dan salah satunya adalah musik.

Maka, sebuah sesi “nyanyian” atau yang familiar kita sebut dengan sesi pujian penyembahan, adalah sebuah momen dimana kita berkesempatan untuk berkomunikasi dan mengekspresikan isi hati kita kepada Tuhan. Sebaliknya, ini juga merupakan momen dimana Tuhan juga ingin berkomunikasi dan terkoneksi kepada kita. Itu sebabnya, inti kekuatan sebuah sesi pujian penyembahan bukan sekedar pada musik dan performanya, melainkan pada KONEKSI / hubungan yang terjalin antara Tuhan dengan umatNya.

Jika sebuah sesi pujian penyembahan tidak membuat jemaat bisa terkoneksi dan mengalami Tuhan, maka itu tidak ada bedanya dengan sebuah sesi performa musik belaka yang setara dengan penampilan band-band di cafe, di acara “kondangan”, maupun konser musik.

 

BERBAGAI TIPIKAL EKSPRESI KOMUNIKASI

Karena esensi sebuah sesi pujian penyembahan adalah BERKOMUNIKASI dan terkoneksi dengan Tuhan, maka semua orang harus terlibat aktif. Bukan hanya para pelayan di atas panggung, tapi seluruh orang yang hadir haruslah terlibat.

Dan karena ini adalah sebuah bahasa komunikasi, maka tentunya, setiap “kelompok” memiliki gaya dan ciri khas yang unik dalam cara mereka mengekspresikan komunikasi mereka. Contohnya, beberapa suku di Indonesia memiliki ekspresi komunikasi yang halus, anggun, dan tenang. Bagi mereka itulah ekspresi yang baik.

Sementara, di sebagian suku lain, ekspresi komunikasi mereka begitu keras, kencang, dan heboh. Bahkan kadang-kadang, bagi orang yang tak memahaminya, mereka tampak “kasar” dalam berkomunikasi dan berekspresi. Tapi, itulah ekspresi mereka.

Dalam sebuah hubungan yang personal, kadang-kadang cara orang mengekspresikan komunikasi mereka bisa sangat berbeda-beda. Saya memiliki ekspresi komunikasi tertentu untuk istri saya. Sedangkan mungkin pria lain akan memiliki ekspresi komunikasi yang berbeda total dengan saya. Namun, walau ekspresi komunikasi saya mungkin berbeda dengan pria lain, namun bisa saja kami berdua sama-sama memiliki hubungan yang mendalam dengan istri kami masing-masing.

Dan saya tidak bisa menuduh seorang pria yang tidak berekspresi kepada istrinya sama seperti cara saya berekspresi kepada istri saya, sebagai pria yang tidak mencintai istrinya. Karena, setiap pasangan memiliki keunikan ekspresi komunikasi mereka, sesuai kedekatan dan kedalaman hubungan yang terbangun diantara mereka.

 

PENYEMBAH YANG BENAR

Jika kita menilik pada Yohanes 4:22-24, disitu jelas sekali Yesus sama sekali tidak terlalu mempersoalkanl bentuk/cara penyembahan kita. Dia juga sama sekali tidak menekankan pada apa isi persembahan kita. Yesus justru sangat menekankan kepada PENYEMBAHnya.Yang dicari Bapa bukanlah penyembahan dan persembahan, melainkan penyembahnya!

Artinya, bukan jenis musik dan cara menyanyinya yang menjadi soal penting, melainkan siapa yang menyanyikannya dan kenapa dia menyanyi, itulah yang lebih menjadi perhatian.

Maka, sebaiknya, kita mulai berhenti “mengutuki” bentuk ekspresi orang lain, dan berhenti menuduh mereka tidak sedang menyembah Tuhan. Karena baik musik tenang, musik agung, musik gaduh, atau bahkan tanpa musik sekalipun, jika dinyanyikan dengan hati yang tidak terarah kepada Tuhan, tanpa kehausan untuk berjumpa Tuhan, dan hanya sekedar menjalankan rutinitas tanpa makna, maka semuanya menjadi “kosong” dan sia-sia.

Musik adalah sebuah bahasa komunikasi. Sebuah bahasa tanpa disertai makna, hanya akan menjadi sebuah bunyi-bunyian belaka. Dan sebuah bahasa bermakna, tanpa disertai hubungan dan ketulusan hati, akan menjadi sebuah klise yang tak berarti.

 

JOSUA IWAN WAHYUDI
@josuawahyudi

autJIW

Administrator
admin abbaworship.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *