worship8

3 Jebakan Pelayan P&W

Pelayanan pujian dan penyembahan adalah salah satu bidang pelayanan yang termasuk “favorit” di dalam sebuah gereja. Tidak semua jenis pelayanan memiliki kesempatan untuk berdiri di atas “panggung”. Dan sejak dahulu kala, panggung selalu memiliki daya tarik tertentu bagi banyak orang. Bukan hanya panggung menjadikan seseorang sebagai pusat perhatian, panggung juga secara psikologis memiliki efek karismatik.

Maka, sebagai sebuah bidang pelayanan yang memiliki frekuensi dan durasi tinggi untuk “tampil”, pelayanan pujian dan penyembahan memang menyimpan potensi besar untuk mempengaruhi jemaat, sekaligus juga ancaman besar bagi pelayan yang tidak memiliki kesiapan hati dan mental untuk memegang tanggung jawab ini.

Inilah 3 jebakan “panggung” yang selama bertahun-tahun, dari generasi ke generasi, di berbagai gereja (baik kecil maupun besar), telah menjatuhkan, menyesatkan, dan mem”bengkok”kan banyak sekali pelayan pujian dan penyembahan.

 

1. KESOMBONGAN

Ancaman yang paling mudah (dan sering) menyusup ke dalam hati setiap pelayan pujian dan penyembahan adalah kesombongan. Menjadi pusat atensi memang dengan mudah bisa membanjiri perasaan “proud” kita. Tanpa kemampuan untuk menjaga hati dan tetap menjaga kuat fokus pelayanan kita yang berpusat hanya dan hanya kepada Tuhan, maka dengan mudah dan cepat kita malah bisa menggeser posisi Tuhan itu sendiri.

Bahkan, seringkali, dengan tanpa kita sadari, kita sudah mengarahkan penyembahan, kekaguman, dan fokus jemaat bukan kepada Tuhan, melainkan kepada keagungan suara atau kemampuan bermusik kita. Ketika kita sudah melakukan hal ini, maka kitalah yang menjadi pusat penyembahan “audiens”, dan sayangnya, manusia BUKAN diciptakan sebagai subyek yang disembah, sehingga manusia tidak akan pernah sanggup meng”handle” penyembahan.

Setiap kali manusia disembah, saat itu juga ia menjadi sombong dan “play as god”. Itu sebabnya, setiap saat, setiap detik, dan setiap kali melayani, kita harus berulang-ulang secara tegas mengingatkan dan menyatakan bahwa fokus dari penyembahan akan selalu tetap Tuhan, tidak ada yang lain.

 

2. PRAKTEK “SIHIR”

Panggung memiliki efek karismatik. Dengan sedikit kapabilitas, orang yang berdiri di atas panggung, mendadak secara psikologis akan terkesan dan terlihat lebih. Bahkan, dalam banyak kasus, hanya dengan tampil di atas panggung berkali-kali, secara psikologis seseorang bisa tampak lebih menarik hati.

Hal ini terjadi karena orang yang berada di atas panggung mendadak lebih terlihat dan dianggap lebih dari sekedar orang biasa pada umumnya.

Efek seperti ini, bagi orang-orang yang tidak siap hatinya, akan seperti sebuah senjata ampuh yang dipegang oleh seorang anak kecil.

Itu sebabnya kita menjumpai banyak kasus dimana para pelayan yang tampil di atas panggung (termasuk pelayan pujian penyembahan), termasuk kelompok pelayan yang paling banyak jatuh dalam kasus relationship, maupun penipuan keuangan. Apa kaitannya?

Banyak orang memanfaatkan karisma yang ia peroleh di atas panggung untuk menarik hati orang lain, maupun untuk melakukan penipuan-penipuan. Dan banyak orang cenderung percaya kepada mereka, karena orang yang tampil di atas panggung untuk melayani akan dianggap seolah-olah “lebih kudus” dan “lebih dekat dengan Tuhan” sehingga harusnya lebih bisa dipercaya.

 

3. KEHILANGAN PENUNDUKAN

Jebakan ketiga adalah semakin tinggi frekuensi dan durasi seseorang untuk “tampil” di atas panggung. Apalagi jika feedback positif semakin banyak diarahkan kepadanya, maka seseorang berpotensi untuk terjebak menjadi merasa penting dan merasa dialah sang “aktor utama”nya, kunci keberhasilan dari pelayanan.

Itu sebabnya, salah satu kasus “pemberontakan hati” atau perlawanan terhadap otoritas, banyak dijumpai pada pelayan pujian dan penyembahan. Umumnya, semakin tinggi skill dan kemampuan seseorang, semakin sulit ia menundukkan diri kepada sebuah kepemimpinan.

Padahal, jika dilihat dari sejarahnya. Ketika suku Lewi (pelayan pujian penyembahan diasosiasikan sebagai suku Lewi) ditetapkan sebagai suku khusus untuk melayani bait Tuhan pada zaman Musa, justru suku ini satu-satunya yang berpihak kepada Musa ketika terjadi “pemberontakan” patung lembu emas di gunung Sinai. Dari sejarahnya, originalnya, suku Lewi adalah suku yang sejalan dengan kepemimpinan yang ditetapkan Tuhan.

 

3 jebakan ini sangat berbahaya bagi pelayan Tuhan yang tidak sungguh-sungguh menjaga hati dan memiliki ketulusan melayani. Itu sebabnya, memilih sebuah tim pujian dan penyembahan, tidak hanya didasarkan pada kecakapan bermusik, namun juga harus benar-benar diuji kesiapan rohani dan mentalitas mereka, untuk berhadapan dengan jebakan-jebakan yang selalu mengintai untuk menjatuhkan mereka.

 

JOSUA IWAN WAHYUDI
@josuawahyudi

autJIW

Administrator
admin abbaworship.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *