worship2

Musisi VS Penyembah?

Hari-hari ini, kata “worship”, dalam dunia kekristenan, menjadi lekat sekali dengan musik. Terutama dalam gereja-gereja modern, kata “menyembah” dengan cepat bisa diasosiasikan kepada kegiatan memberikan nyanyian untuk Tuhan. Itu sebabnya, kita mengenal pula sebuah jenis pelayanan yang disebut dengan pelayanan penyembahan yang berisi orang-orang yang melayani Tuhan melalui musik dan nyanyian.

Musik, adalah sesuatu yang unik dan khusus. Mengapa Tuhan begitu meng’istimewa’kan musik? Saya akan membahas hal ini di artikel lain karena akan cukup panjang untuk menguraikan betapa berkuasanya musik dalam menyentuh jiwa manusia dan bagaimana Tuhan bisa memakai musik sebagai senjata rahasia Tuhan.

Tapi dalam artikel ini, saya ingin lebih membahas mengenai ke”salah kaprah”an dalam penyembahan dan musik itu sendiri.

 

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba  sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh  dan kebenaran ; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
– Yohanes 4:23 –

Ketika Yesus membahas tentang para “penyembah”, Dia tidak pernah secara khusus menunjuk kepada hal-hal yang berkaitan dengan musik (bahkan konteks ayat tersebut sama sekali tidak melibatkan musik). Disinilah kita harus memahami bahwa worshippers tidak berkaitan secara tunggal hanya dengan musik karena sesungguhnya, semua orang yang memberi diri untuk mengikut Yesus, adalah para God Worshippers, yaitu penyembah-penyembah Tuhan.

Maka, munculnya istilah “pelayanan penyembahan” yang erat sekali berkaitan dengan musik memang bisa menimbulkan kerancuan. Seolah-olah, penyembahan yang utama hanya bisa dilakukan melalui nyanyian dan lagu, dan para pelayan penyembahan haruslah para musisi. Padahal, penyembahan adalah sikap hati yang diekspresikan melalui tindakan kita, apapun bentuk tindakannya.

Itu sebabnya, saya menyebut bahwa para gembala adalah penyembah yang mengekspresikan penyembahannya melalui tindakan penggembalaannya. Para pengajar adalah penyembah yang mengekspresikan penyembahannya melalui ajaran-ajarannya. Para usher adalah penyembah yang mengekspresikan penyembahannya melalui tindakan welcoming people. Para akuntan bahkan, adalah para penyembah yang mengekspresikan penyembahannya melalui tindakan akuntingnya!

Dan semua orang Kristen, apapun profesinya, usianya, jabatannya, dan status pelayanannya, adalah para penyembah Tuhan yang bisa saja mengekspresikan penyembahan mereka melalui berbagai tindakan dalam hidup mereka. Penyembahan sejak awal tidak pernah secara dominan dimonopoli oleh musik dan lagu.

Lalu siapakah orang-orang yang disebut dengan para “pelayan penyembahan” ini? Ya mereka adalah para penyembah Tuhan yang diberikan talenta sebagai musisi dan mampu mengekspresikan penyembahan melalui musik, lagu, dan nyanyian. Walaupun musik itu sendiri memiliki tempat yang spesial dalam kekristenan, tapi bukan berarti para penyembah yang menggunakan musik selalu lebih spesial daripada para penyembah yang berekspresi lewat senyum dan sapaan (para usher).

Tentu saja saya tidak mau terlalu “kepo” untuk kemudian mengusulkan mengganti nama divisi pelayanan “tim worship” hanya karena pemaparan yang saya sampaikan. Yang penting bukanlah di nama dan sebutan, yang jauh lebih penting adalah memahami bahwa penyembahan adalah sebuah ekspresi dari para penyembah untuk yang disembah. Apapun ekspresinya asalkan itu lahir dari hati si penyembah, maka itu menjadi bernilai bagi yang disembah.

 

MUSISI dan PENYEMBAH

Suatu hari, istri saya membagikan pewahyuan yang ia dapat dari Tuhan. Dia pernah bertahun-tahun terlibat dalam pelayanan tari. Suatu hari dia bercerita bahwa Tuhan ingin dia menjadi seorang “penyembah yang menari” BUKAN “penari yang menyembah”.

Apa bedanya?

Jelas berbeda.

Seorang penyembah yang menari adalah orang yang memposisikan dirinya terutama sebagai seorang penyembah. Tarian adalah bentuk ekspresi penyembahannya.

Sebaliknya, seorang penari yang menyembah adalah orang yang memposisikan dirinya terutama sebagai seorang penari. Penyembahan menjadi ekspresi dari dirinya yang adalah penari.

Banyak sekali (nyaris sulit dihitung lagi), para “pelayan penyembahan” yang memposisikan diri sebagai MUSISI YANG MENYEMBAH ketimbang PENYEMBAH YANG BEREKSPRESI LEWAT MUSIK. Kondisi ini membuat para “pelayan penyembahan” sangat membanggakan status musisi mereka dan seringkali “mengagungkan” ke’musisi’an mereka ketimbang mengambil posisi sebagai penyembah.

Apakah Anda familiar dengan pernyataan, “kita ini musisi… orangnya nyleneh…”, “kita ini orang otak kanan, gak bisa banyak dikasih aturan-aturan” atau kalimat-kalimat semacam: “seniman itu susah diatur… Nggak bisa terlalu dikekang…” atau “yang namanya musisi itu bebas, jangan terlalu dibikin ribet…” atau “seniman itu kalo lagi nggak mood, nggak akan bisa jalan…”

Darimana lahir semua pernyataan dan “keluhan” ini? Semua muncul karena kita terlalu memposisikan diri lebih berat sebagai musisi ketimbang sebagai penyembah Tuhan. Karena jelas sekali, seorang penyembah Tuhan adalah orang yang men’submit’kan dirinya TOTAL kepada (Tuhan) yang disembah. Apapun keinginan yang disembah (Tuhan), akan dan harus kita lakukan, karena kita adalah penyembahNya.

Artinya, jika Tuhan ingin kita menjadi disiplin, tidak peduli kita musisi, pengusaha, pengangguran, atau siapapun, kita harus submit kepada Dia. Jika Tuhan ingin kita rendah hati, tidak peduli kita seniman atau programmer, kita harus submit kepada Dia. Jika Tuhan ingin kita berada dalam sebuah covering otoritas dan komunitas, tidak peduli siapapun kita, seharusnya kita bisa submit kepada Dia dan FirmanNya!

Firman Tuhan berlaku bagi semua orang. Firman Tuhan tidak punya pengecualian untuk seniman, orang otak kanan, dan musisi. Firman Tuhan memiliki garis yang jelas. Hanya karena kita seniman, bukan berarti kita bisa mendapat “dispensasi” dari disiplin-disiplin rohani. Namun, ketika kita lebih menganggap diri kita sebagai musisi ketimbang sebagai penyembah Tuhan, disitulah kita merasa seharusnya ada “dispensasi khusus” bagi kita para musisi.

Pada saat Tuhan memanggil kita, semua status kita adalah satu, yaitu PENYEMBAH TUHAN. Musisi, pengusaha, pengkotbah, pengajar, dan berbagai status lainnya hanyalah MEDIA EKSPRESI PENYEMBAHAN kita, bukanlah status utama kita.

Itu sebabnya, orang yang memahami identitas dirinya sebagai penyembah, akan mustahil menjadi “songong”, keras kepala, tidak bisa diatur, atau melakukan hal-hal lain yang tidak merefleksikan dirinya sebagai penyembah Tuhan.

Dalam artikel ini, saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengecilkan arti profesi musisi apalagi mendiskreditkan profesi musisi. Seperti yang saya bilang, musik adalah sesuatu yang spesial dalam kekristenan dan musisi adalah orang-orang yang mendapat kehormatan khusus untuk memegang sebuah senjata rahasia bernama musik. Namun, sekali lagi identitas kita sesungguhnya bukanlah musisi, kita adalah para penyembah Tuhan yang submit kepada Tuhan yang kita sembah.

Maka, apapun yang kita lakukan seharusnya menunjukkan dan mencerminkan ke’submit’an kita kepada Tuhan dan firmanNya. Dengan demikian, orang akan melihat kita sebagai penyembah yang bermusik, bukan sebaliknya.

Sekali lagi, Tuhan mencari PENYEMBAH-PENYEMBAH yang benar.

Di artikel berikutnya, saya akan membahas mengenai “Tim Musik Atau Tim Penyembah”, sampai jumpa di artikel berikutnya!

 

JOSUA IWAN WAHYUDI
@josuawahyudi

autJIW

Administrator
admin abbaworship.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *