worship6

3 Rahasia Memimpin P&W

Banyak orang mengira, memimpin sebuah sesi pujian dan penyembahan hanyalah berbicara soal memiliki kemampuan menyanyi yang baik. Padahal, menyanyi dan memimpin sebuah sesi “menyanyi bersama” adalah 2 hal yang berbeda dan terpisah.

Banyak sekali pemimpin pujian dengan suara yang luar biasa, namun tidak fasih dalam memimpin jemaat. Kita harus mengingat, bahwa sesi pujian dan penyembahan BUKANLAH sesi konser atau penampilan panggung. Masih cukup banyak pelayan pujian dan penyembahan yang belum menyadari akan hal ini dan menganggap bahwa pelayanan pujian dan penyembahan nyaris tak ada bedanya dengan sebuah performa musik di atas sebuah panggung.

Itu sebabnya, hal yang sangat mendasar sekali untuk mengetahui perbedaan antara musisi dan penyembah; dan juga perbedaan antara tim musik dan tim penyembahan.

Nah, setidaknya ada 3 hal penting yang menjadi kunci keberhasilan seorang Worship Leader.

1. CONNECTIVITY

Perbedaan antara konser dengan sebuah sesi pujian penyembahan adalah: di dalam konser, penonton memang datang untuk menonton. Artinya, tidak perlu terjadi komunikasi 2 arah. Tim musik secara “one way” menyuguhkan sebuah pertunjukkan. Sedangkan dalam sebuah sesi pujian penyembahan, aktifitasnya bersifat korporat (keseluruhan) dan difokuskan kepada pribadi Tuhan.

Maka, sang pemimpin pujian penyembahan HARUSLAH menunjukkan connectivity kepada jemaat (terutama saat sesi praise). Ini bisa ditunjukkan melalui mimik ekspresi wajah, eye contact, & body language.

Kebanyakan pemimpin pujian penyembahan hanya sibuk asyik sendiri, atau sibuk “show off”, atau bahkan tidak terkoneksi sama sekali dengan jemaat dan hanya menghabiskan “jatah” lagu saja.

 

2. SENSITIVITY

Perbedaan berikutnya antara konser dan sebuah sesi pujian penyembahan adalah: dalam konser fokusnya adalah sang performer. Di dalam sesi pujian penyembahan, fokusnya adalah Tuhan. Itu sebabnya, di dalam sebuah sesi pujian penyembahan yang sejati, PASTI ada pesan Tuhan.

Tujuan utama sesi pujian penyembahan adalah membangun hubungan antara Tuhan dengan jemaatNya. Jika seorang pemimpin pujian penyembahan tidak peka dengan pesan Tuhan, maka yang terjadi hanyalah sebuah sesi “menyanyi bersama”, tanpa ada jamahan Tuhan atau pengalaman perjumpaan dengan Tuhan

 

3. AUTHORITY

Kunci ketiga dari sebuah sesi pujian penyembahan yang luar biasa adalah, setiap pelayan pujian penyembahan harus melayani dengan memiliki otoritas dan kewibawaan ilahi. Otoritas yang saya maksud bukan datang dari jabatan atau dari kemampuan yang hebat. Jika kita mengandalkan kemampuan hebat, yang muncul bukanlah otoritas, melainkan kesombongan.

Otoritas muncul dari iman yang kuat bahwa Tuhan hadir bersama-sama dengan kita dan Dia berkenan untuk memakai kita menjadi alatNya untuk menyatakan kehadiranNya di tengah sebuah sesi pujian penyembahan. Itu sebabnya, pelayan Tuhan yang tidak dekat dengan Tuhan dan tidak memiliki waktu pribadi yang berkualitas bersama Tuhan, akan kekurangan otoritas Ilahi ini.

Dan ketika kita mengganti otoritas ilahi ini hanya sekedar dengan kemampuan bermusik yang hebat, mungkin jemaat bisa saja “terhibur”, namun mereka tidak akan mengalami perjumpaan Ilahi.

 

JOSUA IWAN WAHYUDI
@josuawahyudi

autJIW

Administrator
admin abbaworship.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *